Posted by: Jurusan Manajemen | October 13, 2009

UGM Menyongsong Program Internasional Rajutan Sendiri

ugmProgram bertaraf internasional telah diselenggarakan di berbagai fakultas di lingkungan UGM. Secara de facto telah memiliki banyak program internasional meskipun pengajuan akreditasi dari lembaga internasional saat ini sedang diproses oleh beberapa fakultas”(Rektor, Dies Natalis ke-59,2008)

Beberapa fakultas sudah sejak lama merintis program internasional, program pengembangan bidang ilmu, program PBI tahun 2007 akhir, kemudian disusul ISO 9001 untuk sistim manajemen akademik. Setidaknya masing-masing telah melakukan MOU dengan beberapa universitas di luar negeri.

Setiap fakultas memiliki kecepatan yang tidak sama terkait internasionalisasi. Beberapa masih berproses. Namun sebagian fakultas mantap mengajukan akreditasi internasional, seperti Fakultas Ekonomika dan Bisnis.  Bahkan ketika Renstra diketok MWA, paradigma research university, sekarang ini mengarah pada world class rearch university (WCRU). Menjadi WCRU memang tidak mudah, karena pengakuan tidak datang dari diri sendiri, melainkan dari pihak lain. Terlebih bila terkait pengakuan dari partner perguruan tinggi di luar negeri.

Wakil Rektor Senior Bidang Pendidikan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat kemudian meminta para dekan di lingkungan UGM untuk mengembangkan kerja sama internasional. Meski begitu, kerja sama itu diharapkan tidak mengurangi kerja sama nasional baik dengan pemerintah daerah, perusahaan-perusahaan, perguruan tinggi dan lain-lain.

Langkah tertib administrsi penting mengingat internasionalisasi terkait akreditasi dan evaluasi. Kenyataan menunjukkan bahwa semacam ini tidak disadari sepenuhnya oleh warga UGM. Mereka seolah-olah tidak peduli dengan administrasi. Bagi mereka, yang penting menjalankan isi kerja sama dengan baik.

Kelas internasional. Kapasitas program S1 internasional terlalu berat. Program internasional akan menjadi lebih baik bila diterapkan pada program pascasarjana. Dalam berhubungan dengan dunia internasional, harus menunjukkan keberaniannya dalam berhubungan dengan orang asing. “Oleh karena itu, tidak perlu menjadi pemalu dan minderan, karena hanya tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Toh bangsa Indonesia memang bukan native speaker English. Jadi, salah sedikit ya nggak apa-apa. Tapi ya dimulai saja dari yang tidak sempurna tapi sering dipakai. Yang penting tujuan dan maksud kita baik,”

http://ugm.ac.id/index.php?page=headline&artikel=405&edisi=84


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: